Kamis, 23 Mei 2019, WIB

Sabtu, 22 Des 2018, 12:49:47 WIB, 200 View Administrator, Kategori : OPINI


Oleh: Muhammad Fahri
Kader HMB Jakarta, Juga Pengurus HMI Komisariat Fakultas Adab dan Humaniora Cabang Ciputat.

 

 

Indonesia, sejauh ini mulai menghadapi zaman milenial, dan perdagangan bebas. Banyak investor asing masuk ke Indonesia seperti China, Amerika dan lainnya. Selain itu Industri di Indonesia juga semakin meningkat.  Fase ini menjadi tugas besar masyarakat Indonesia, untuk bisa bersaing dengan investor-investor asing. Dengan pesatnya tekonolgi dan dunia industri khususnya di Indonesia, bagaimana nasib masyarakat Indonesia dengan ekonomi menengah ke bawah? 

Secara sosiologi, manusia adalah makhluk yang belum sempurna. Untuk mencapai kesempurnaan itu, manusia harus berinteraksi dan berhubungan sosial dengan individu lainnya. Untuk mencari dan menentukan pola sosial, sehingga mencapai taraf “apa yang salah” dan “apa yang benar”.

Dari zaman nenek moyang, demokrasi dan mufakat adalah hasil dari interaksi individu dengan kelompok. Artinya seseorang yang memiliki gagasan akan berinteraksi dengan yang lainnya, sehingga menghasilkan kesepakatan bersama atau pandangan umum. Sederhananya, nilai-nilai sosial yang di bangun adalah hasil dari hubungan langsung individu dengan individu lainnya.

Dalam hal ini, manusia tidak lepas dari kehidupan masyarakat. Di fase ini, manusia menghadapi zaman milenial yang super instan. Di zaman sekarang, pekerjaan apa yang tidak menggunakan mesin? Ya saya kira hampir semua pekerjaan menggunakan mesin. 

Keresahan masyarakat yang orientasinya memiliki ekonomi menengah ke bawah, akan kesulitan mencari kebutuhan dan pekerjaan. Sumber terjadinya kriminal salah satunya di sebabkan kesenjangan ekonomi. Oleh karena itu dengan industri semakin pesat, kriminal dan konflik di masyarakat juga semakin bermunculan. Karena industrisasi menyebabkan banyak kemiskinan.

Pekerjaan yang seharusnya di kerjakan oleh manusia, akan di gantikan oleh robot-robot buatan. Sehingga semakin sedikit peluang kerja untuk masyarakat. Bisa jadi beberapa tahun ke depan, bukan manusia lagi yang memperkerjakan robot, tapi robot yang akan memperkerjakan kita. Kita yang kerja, robot yang jadi mandornya. Karena menganggap kualitas robot lebih superior dari pada tenaga manusia.

Alasan saya menganggap industrisasi sebagai salah satu sumber konflik, karena ada kesenjangan antara buruh dan pemilik modal. Contoh sederhananya seperti ini, jika investor lebih banyak dari pada buruh, investor akan mencari buruh untuk menjalankan usahanya. Investor akan menawarkan soal gaji kepada buruh, Dan peluang buruh lebih besar negosiasi soal gaji kepada investor.

Sebaliknya, jika buruh lebih banyak dari pada investor, maka buruh yang akan menawarkan tenaganya kepada investor. Dan investor pula yang akan lebih besar kesempatannya untuk negosiasi soal gaji kepada si buruh. Jika peristiwa ini terjadi, investor akan seenaknya memperkerjakan buruh, dan akan seenaknya memecat buruh. Karena menurut investor “Suka-suka saya mau mecat siapapun, toh masih banyak yang mau kerja ke perusahaan saya”.

Beberapa tahun ke depan kita benar-benar akan di hadapkan zaman yang begitu modern. Di mana tenaga kerja manusia akan di anggap lebih rendah dari pada tenaga kerja mesin buatan. Ketika manusia di hadapkan dengan revolusi industri besar-besaran, manusia akan di hadapkan dengan pelajaran individualis. Artinya nilai-nilai masyarakat yang di bangun melalui budaya dan sebagainya akan melebur di tengah revolusi industri ini. Yang mereka fikirkan, bagaimana kita bisa menghidupi keluarga, sehingga tidak lagi melirik soal budaya dan gotong royong. Sering kita jumpai, Ondel-Ondel, Kuda Lumpng, Debus, Pencak Silat, menajadi media ngamen di jalanan. Artinya budaya warisan nenek moyang kita mulai termarjinalkan oleh revolusi ini. 

Untuk menghadapi zaman ini, semua pilihan kita, di jajah atau menjajah, defensif atau ofensif, membunuh atau di bunuh.(Admin). 



Minggu, 31 Mar 2019 Ilmuwan : Sabotase Temuan Brilian


Tuliskan Komentar