Senin, 23 September 2019, WIB

Selasa, 30 Jul 2019, 11:25:22 WIB, 113 View Administrator, Kategori : OPINI


(Opini),- Pasca Pilpres 2019, banyak sudut pandang tentang isu kenegaran yang naik ke permukaan. Spekulasi yang berkonotasi positif dan negatif pun mulai berkembang dalam masyarakat, hal ini menyebabkan kurangnya kehangatan dalam bernegara. Dalam tatanan sosial, kita bisa melihat akhir-akhir ini banyak bermunculan pengamat politik dari kalangan masyarakat yang mempunyai asumsi keberpihakan dalam penilaian arah tujuan pasca pilres 2019.

Aspek yang menjadi sorotan masyarakat tentang cermin pemerintah yaitu ekonomi, karna ini sangat sakral dalam menentukan arah masa depan bangsa. Akhir-Akhir ini banyak rakyat kecil yang teriak-teriak akan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Hampir lebih dari 50 % Rakyat indonesia mengeluh akan kondisi ekonomi di jaman sekarang, apa yang harus mereka lakukan untuk menyampaikan keresahan yang saat ini di bebankan kepada mereka?

Penulis mencoba merefleksi jiwa Mahasiswa dengan tujuan sadar akan tugas dan kewajiban sebagai agent of change, dengan demikian kondisi kesenjangan hidup berbangsa dan bernegara menjadi tumpuan dalam mewujudkan bangsa yang sejahtera. Bukan hal yang tidak mungkin untuk mahasiswa yang di sebut agent of change, merubah haluan yang tidak berpihak pada kebutuhan masyrakat, baik secara ekonomi, sosial, pendidikan bahkan dalam beragama.

Gubahan syair tentang peranan Mahsiswa yang mayoritas kaum muda, yaitu betapa pentingnya peran pemuda terhadap dunia ini. Oleh karena itu, Syekh Mustafa al-Gulayaini, seorang pujangga Mesir, mengatakan sesungguhnya pada tangan–tangan pemudalah urusan umat, dan pada kaki–kaki merekalah terdapat kehidupan umat.

Kemudian penulis tegaskan dalam ungkapan syekh mustafa al-Gulayani, : Harapan besar di bebankan kepada kaum pemuda untuk mengubah Nasib bangsa, Negara bahkan Umat. Perlu aktualisasi diri bagi mahasiswa untuk mengenal lebih jauh urgensi mahasiswa, dan filosofi perjuangan mahsiswa ketika Tragedi Trisakti penembakan mahasiswa, pada tanggal 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka.

Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 - 1998), Hafidin Royan (1976 - 1998), dan Hendriawan Sie (1975 - 1998). Inilah para pejuang yang rela berkorban untuk rakyat kecil, bahkan nyawa pun murah untuk bangsa dan negara.

Rakyat indonesia dalam memperjuangkan hak dan kewajiban dalam kesejahteraan Ekonomi sangatlah penuh perjuangan, dan perlu di ingat bahwa mahasiswa berjuang bersama rakyat untuk me-Evaluasi kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan kondisi masyrakat. 
 
Garis terdepan mahasiswa yang lantang teriak revolusi. Gairah sebagai generasi pengubah nasib bangsa sangat terlihat ketika mereka bernyanyi bersama disertai orasi yang mengebu-gebu.

Pemerintah mulai goyah pada awal 1998, yang terpengaruh oleh krisis finansial Asia sepanjang 1997-1999. Mahasiswa pun melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke Gedung Nusantara, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti. Ini yang penulis tegaskan bahwa peristiwa bersejarah dan bisa dikatakan eksistensi mahasiswa sangat di perhatikan oleh tatanan pemerintah pada kala itu.

Tahun beranjak demi tahun, kapasitas dari mahasiswapun di ragukan. Hingga muncul opini bahwa mahsiswa masih tertidur lelap akan buaian sang ibu pertiwi, seolah-seolah tidak terjadi apa-apa di masyarakat. Sangat miris kondisi mahasiswa jikalau kita bandingkan dengan para leluluhur sebelumnya.

Sudah seharusnya kita berkaca pada masa lalu, tentang siapa sosok mahasiswa, yang berjuang demi rakyat kecil. Membantu semua keluhaan serta menampung Aspirasi rakyat kecil, dengan misi lahirlah tatanan masyrakat sejahtera bagi semua Rakyat Republik indonesia.

Penulis :
Adji Wiguna Jaya
Mahasiswa Bimbingan Penyuluhan Islam UIN JAKARTA serta Kader HMB JAKARTA





Tuliskan Komentar