Minggu, 15 Desember 2019, WIB

Kamis, 14 Mar 2019, 11:43:12 WIB, 198 View Administrator, Kategori : OPINI

Www.Hmbjakarta.org(MajlisReboan),- HMB Jakarta adakan Majelis Reboan sebagai rutinitas kegiatan bidang keilmuan. Sekaligus wadah untuk Berkumpul, Berdialektika, Berdiskusi, mencari Titik Temu. Sehingga terciptanya Paradigma-paradigma baru yang lebih terbuka khususnya dikalangan Mahasiswa, sebagai agen perubahan.

Memang dalam hal ini Kebutuhan Manusia tidak melulu tentang persoalan Perut (Jasmani), tetapi Manusia pun butuh yang namanya kebutuhan Rohani seperti kebebasan berkumpul, berpendapat, adalah sebagai bentuk eksistensi di ruang lingkup sosial.

Jika keduanya terpenuhi, maka sudah semestinya menjadi Manusia yang Paripurna.

Keinginan setiap individu untuk Berkumpul dan merefleksikan eksistensinya di ruang lingkup sosial merupakan salah satu kebutuhan yang paling mendasar di dalam diri manusia yang tidak dapat dihalangi, Karena disisi lain manusia merupakan makhluk *individu* yang memiliki konsep tentang dirinya sendiri (ego) dan disisi lainnya manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan pengakuan terhadap orang lain.

Dalam konteks ini, pelu adanya Dialog secara kolektif, untuk menggali potensi di dalam diri masing-masing individu, agar dapat subur dan produktif dalam bidang intelektual. Dengan berkumpul, Bertukar fikiran, dapat menjadikan ego-ego sebagai suatu sintesis (pengetahuan baru).

Dialog merupakan tawaran yang sangat baik dalam proses terciptanya iklim intelektual. Karena dengan dialog dapat melahirkan sebuah pengetahuan baru yang pada gilirannya akan menumbuhkan kesadaran terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman.

Dalam hal ini HMB Jakarta berupaya menciptakan Iklim supaya Tegaknya Intelektualitas di kalangan Mahasiswa, khususnya Mahasiswa Banten. Dengan cara mengadakan Dialog Verbal secara intensif setiap malam Kamis, Pukul 20.00 WIB. Bertempat di Aula Himpunan Mahasiswa Banten (Jakarta).

Rabu, 13 Maret 2019. HMB Jakarta adakan kembali dialog yang bertajuk "Peta Filsafat Sebagai Dasar Ilmu Pengetahuan". Setelah libur beberapa pekan.

Mengambil Tema Filsafat sebagai Dasar. Merupakan sarana metode berfikir Kritis, Komprehensif dan Universal. Untuk bisa membaca tantangan modernitas, menganalisis wacana publik, serta berfikir dan bertindak secara ilmiah.

Dalam Prolognya, Mahfudzoh sebagai Ketua bidang keilmuan HMB Jakarta mengatakan bahwa "Dengan belajar filsafat, kamu bisa memiliki pemikiran yang kritis. Filsafat akan membentuk pemikiran diplomatis, yang bisa menjadikan kamu peka terhadap lingkungan sekitar, dan juga bertindak anti-apatis"

Dalam sejarahnya, Filsafat timbul karena proses dialektika antara Mitos dengan Logos, dilanjutkan oleh dialektika antara kaum Rasionalis dengan Empiris. Dari dialektika tersebut, menghasilkan sebuah Sintesis yang menyebabkan lahirnya macam-macam Ilmu Pengetahuan.

Emha S. Asror sebagai pemantik dalam dialognya mengatakan bahwa "sesuatu yang bisa dikatakan ilmu pengetahuan ialah sesuatu yang bisa di ilmiahkan".

Misalnya "Shalat" dijadikan sebagai dogma (pokok ajaran) tentang kepercayaan yang harus diterima sebagai kebenaran dalam Agama Islam. Secara logika dalam filsafat, hal demikian merupakan sebuah Mitologi yang tidak bisa dijadikan sebagai bentuk Ilmu Pengetahuan.

Tetapi jika di Rasionalisaikan secara Ilmiah, seperti: gerakan-gerakan, waktu-waktu, dalam "Shalat" mengandung nilai-nilai Medis yang dapat menyehatkan Tubuh. Dan juga dalam konteks shalat berjamaah terdapat nilai-nilai Sosial yang dapat menjaga hubungan harmonis antar sesama agar terhidar dari segala bentuk penyakit sosial. Jika seperti itu maka Shalat bisa dijadikan sebagai bentuk Ilmu pengetahuan dan bisa dibuktikan kebenaranya.

Menurut Filsafat Hegel, dari sekian banyak ilmu pengetahuan. Semua itu berawal dari dialektika para filsuf-filsuf sebelumnya, dimulai dari Tesis, lalu muncul Antitesis, yang melahirkan Sintesis. Dan dari Sintesis akan menjadi Tesis baru lagi begitu dan seterusnya.

Contohnya: Kaum Rasionalis Menganggap Akal sebagai sumber pengetahuan (tesis), lalu Kaum Empiris mengatakan bahwa Pancaindra lah sebagai sumber pengetahuan (antitesis). Dalam dialektika antara kaum rasionalis dengan kaum empiris menghasilkan (Sintesis) bahwa Akal dan Pancaindra sama sama penting dalam proses terciptanya ilmu pengetahuan.

Jika dilihat dari contoh diatas, peran dialektika merupakan kenyataan yang dapat mendorong proses pengayaan pengetahuan sehingga melahirkan pengetahuan-pengetahuan baru yang merupakan hasil dialog secara dinamis antara individu dengan individu lain, yang masing-masing mempunyai aneka ragam pemikiran. Dan dari situlah terciptanya Iklim Intelektualitas, dalam wadah Himpunan Mahasiswa Banten (Jakarta). (GOBRIS).

Penulis: Umamil Murtado (Ammad) kader HMB Jakarta, angkatan Syekh Nawawi Al-Bantani 2018. 





Tuliskan Komentar