Minggu, 17 November 2019, WIB

Minggu, 19 Mei 2019, 02:21:45 WIB, 144 View Administrator, Kategori : HMB

 

Hmbjakarta.org (Ciputat),- Alumni dan Anggota Himpunan Mahasiswa Banten (HMB) Jakarta menyelenggarakan buka bersama, bertempat di Aula Asrama HMB, Pada Jum'at (17/05).

Moderator Forum Sharing Alumni HMB Jakarta, Bibi Siti Mahfudzoh, menyampaikan, bahwa bukber tersebut adalah dalam rangka mengobati kerinduan setelah lama tidak berjumpa, yang dikemas dalam kehangatan bercengkrama sambil menikmati jewadah tradisional Sunda Banten.

"Kerinduan setelah lama tidak berjumpa terobati dalam kehangatan cengkerama sambil menikmati jawadah tradisional Sunda Banten.; pais lauk, keukeus daun tangkil, sambel delan, dan lalab jengkol dalam acara buka bersama Alumni dan Anggota HMB Jakarta," kata Alumni HMB Wati yang akrab disapa Bi Endoh (17/5).

Kegiatan setelah berbuka, dilanjutkan dengan shalat maghrib dan tarawih 11 Raka'at yang diimami oleh  Sesepuh juga Alumni HMB Jakarta Mang Embay.

Namun demikian, disela terawih terdapat taushiyah yang kocak yang disampaikan Mang Mohammad Zen.

M. Zen mengambil kesempatan bertaushiyah dengan tajuk "Puasa Sebagai Investasi".

Ia memulai dengan sebuah perumpamaan. Disebutnya mahluk hidup bernama belut. Ia menganalogikan ikan belut sebagai perbandingan generasi muda zaman dulu dan masa kini.

Dulu, Kata M Zen, cita rasa belut sangatlah lezat. Namun sekarang tidaklah lagi. Penampilan bisa sama, namun rasa, tekstur, dan aroma sangatlah berbeda. Di masak dengan bumbu apapun tetap saja tak membangkitkan selera ; dipepes, digoreng, dipanggangpun sama saja. Begitu pula ikan air tawar lainnya seperti tawes, ikan mas, atau nila.  Ini sangatlah mengherankannya. Apa salah mereka ? , Tanya M Zen kepada semua yang hadir saat tausiyah berlangsung.

Usut punya usul, ia menganalisa, ternyata belut zaman dulu diperoleh dengan susah payah. Dia bisa diperoleh dengan cara dipancing atau dijala di sawah atau sungai. "Perlu waktu lama untuk mendapatkannya, sehingga saat didapatkan, ialah hidangan teristimewa," Ujarnya.

Selain itu, belut atau ikan-ikan itu menjadi peuleum atau seudap dikarenakan mereka selalu bergerak, tidak pernah diam. Mereka berenang berkejar-kejaran di air yang luas, bersama dengan ikan2 lainnya mencari makanan, kadang harus berlomba merebut kesempatan.

Oleh karena itu, saat dihidangkan, ikan - ikan tersebut berdaging kenyal, aromanya harum saat dipanggang, menerbitkan air liur dengan sambal kecombrang dan terasi udang.

Sekarang ikan dan belut lebih suka dikerangkeng, berdesak-desakan tak punya ruang gerak yang bebas dan luas, menanti pelet ditaburkan, menunggu nasib kapan orang akan membeli dan memakannya.

"Jika dia tak ada yang menawar, ia akan tetap berdiam disitu, makan dan makan lagi jika ada yang memberi, atau mati kelaparan," M Zen menjelaskan.

Kemudian M Zen melanjutkan tausiyahnya lebih dalam. Pemuda masa lalu adalah pemuda pejuang. Tak kurang dari para penulis tafsir , para pencipta berbagai penemuan, cerdik, cendekia dan lainnya. Mereka adalah para padri yang berpuasa, yang menahan lapar untuk sebuah karya.

"Mereka yang terlalu mudah hidupnya ibarat belut yang diberi pelet, malas bergerak, menanti orang memberi, malas membaca, bahkan lebih parah lagi malas berfikir.  Otak yang berharga yang diberikan Allah sebagai harta yang tak ternilai menjadi terabaikan karena segala kebutuhan serba disediakan. Bener nggak, sih ?," lanjutnya dengan melempar pertanyaan Kemabali seakan membangun yang hadir agar berfirkir keras, khususnya Anak - Anak Muda Pengurus dan Anggota HMB.

Mahasiwa sekarang, mau pergi ke kampus tinggal buka aplikasi ojek online. Semakin dalam lagi Mang M Zen membangunkan yang hadir agar berfikir keras khususnya Mahasiswa HMB. Mau beli barang tinggal gosend, lapar tinggal milih menu dan pesen go food. "Beda dengan dulu, mereka harus jalan kaki beberapa KM untuk kuliah, hunting warteg mana yang termurah, bahkan berani tidak makan pake lauk asal kebeli buku dan punya sisa uang buat fotokopi makalah," ungkapnya.

Di penghujung wejangannya M Zen berwasiyat agar pemuda jaman now menunda kenikmatan (sebagai esensi dari puasa) walaupun pelbagai fasilitas mudah didapat.

"Pemuda masa kini harus pandai memanfaatkan potensi yang ada dengan perjuangan yang lebih gigih . Jangan terlena dengan gogodan. Jangan banyak tidur dan duduk-duduk menganggur, karena masa depan tantangan akan lebih berat. Berjuanglah sebagai pengejawantahan dari puasa. Atau kau akan mati sia-sia !." Pungkasnya.

Pengirim : Seseupeuh / Alumni HMB Wati (Bi.Endoh)
Admin Publisher : Gobriz (Wasekum HMB Jakarta 2017-18).





Tuliskan Komentar